15 Kesalahan EYD yang Paling Sering Dilakukan Penulis Pemula

Masih sering salah menulis “di”, “ke”, atau huruf kapital? Yuk simak kesalahan yang paling sering dilakukan penulis pemula serta cara memperbaikinya.

Menulis bukan hanya soal menyampaikan ide, tetapi juga memastikan tulisan mudah dipahami dan sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Sayangnya, banyak penulis pemula yang masih sering melakukan kesalahan dalam penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) atau yang kini dikenal sebagai Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

EYD

Kesalahan-kesalahan tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi dapat memengaruhi kualitas tulisan secara keseluruhan. Tulisan yang rapi dan sesuai kaidah akan lebih nyaman dibaca serta memberikan kesan profesional kepada pembaca.

Berikut 15 kesalahan EYD yang paling sering dilakukan oleh penulis pemula.

1. Salah Menggunakan Huruf Kapital

Huruf kapital sering digunakan secara tidak tepat, baik terlalu sedikit maupun berlebihan.

Contoh salah:

  • saya tinggal di banda aceh.
  • dia berasal dari suku jawa.

Contoh benar:

  • Saya tinggal di Banda Aceh.
  • Dia berasal dari Suku Jawa.

Huruf kapital digunakan pada nama orang, tempat, suku bangsa, bahasa, hari, bulan, dan unsur-unsur tertentu lainnya sesuai kaidah EBI.

2. Menyatukan Kata Depan "di"

Banyak penulis masih menulis kata depan "di" secara serangkai dengan kata yang mengikutinya.

Contoh salah:

  • diatas meja.
  • dirumah.
  • disekolah.

Contoh benar:

  • di atas meja.
  • di rumah.
  • di sekolah.

Jika menunjukkan tempat atau lokasi, kata depan "di" harus ditulis terpisah.

3. Memisahkan Awalan "di-"

Sebaliknya, ada pula yang memisahkan awalan "di-" dari kata kerja pasif.

Contoh salah:

  • di kirim.
  • di tulis.
  • di perbaiki.

Contoh benar:

  • dikirim.
  • ditulis.
  • diperbaiki.

Jika "di-" berfungsi sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif, penulisannya harus digabung.

4. Keliru Menulis Kata Depan "ke"

Kesalahan ini mirip dengan penggunaan kata depan "di".

Contoh salah:

  • kepantai.
  • ketoko.
  • kesekolah.

Contoh benar:

  • ke pantai.
  • ke toko.
  • ke sekolah.

Kata depan "ke" yang menunjukkan arah atau tempat harus dipisah.

5. Kurang Tepat Menggunakan Tanda Koma

Tanda koma sering kali diabaikan atau justru digunakan terlalu banyak.

Contoh salah:

  • Oleh karena itu artikel ini perlu diperbaiki.
  • Namun saya tetap menulis.

Contoh benar:

  • Oleh karena itu, artikel ini perlu diperbaiki.
  • Namun, saya tetap menulis.

Kata penghubung antarkalimat umumnya diikuti tanda koma.

6. Menggunakan Kata Tidak Baku

Banyak kata yang sering digunakan sehari-hari ternyata bukan bentuk baku.

Contoh salah:

  • resiko.
  • aktifitas.
  • analisa.

Contoh benar:

  • risiko.
  • aktivitas.
  • analisis.

Penulis sebaiknya membiasakan diri memeriksa kata baku melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

7. Salah Menulis Kata Ulang

Kata ulang masih sering ditulis tanpa tanda hubung.

Contoh salah:

  • anak anak.
  • buku buku.
  • rumah rumah.

Contoh benar:

  • anak-anak.
  • buku-buku.
  • rumah-rumah.

Dalam bahasa Indonesia, kata ulang ditulis menggunakan tanda hubung (-).

8. Menulis Akhiran "-nya" Secara Terpisah

Kesalahan ini cukup sering ditemukan dalam tulisan daring.

Contoh salah:

  • rumah nya.
  • buku nya.
  • artikel nya.

Contoh benar:

  • rumahnya.
  • bukunya.
  • artikelnya.

Akhiran "-nya" harus ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

9. Salah Menulis Partikel "pun"

Partikel "pun" umumnya ditulis terpisah dari kata sebelumnya.

Contoh salah:

  • siapapun.
  • kapanpun.
  • dimanapun.

Contoh benar:

  • siapa pun.
  • kapan pun.
  • di mana pun.

Namun, terdapat beberapa bentuk yang sudah dianggap padu, seperti "walaupun" dan "meskipun".

10. Tidak Konsisten Menggunakan Tanda Titik

Sebagian penulis sering mengabaikan tanda titik pada akhir kalimat.

Contoh salah:

  • Hari ini saya belajar menulis
  • Besok saya akan melanjutkannya

Contoh benar:

  • Hari ini saya belajar menulis.
  • Besok saya akan melanjutkannya.

Tanda titik berfungsi mengakhiri kalimat pernyataan.

11. Keliru Menempatkan Tanda Petik

Kesalahan dalam penggunaan tanda petik sering muncul pada kalimat langsung.

Contoh salah:

  • Dia berkata, "Saya akan datang".

Contoh benar:

  • Dia berkata, "Saya akan datang."

Penempatan tanda baca harus mengikuti aturan yang berlaku dalam kalimat langsung.

12. Salah Menulis Singkatan dan Gelar

Penulisan gelar akademik sering kali tidak sesuai dengan ketentuan.

Contoh salah:

  • s.pd.
  • s.h.
  • drs.

Contoh benar:

  • S.Pd.
  • S.H.
  • Drs.

Penulisan singkatan dan gelar memiliki aturan khusus terkait penggunaan huruf kapital dan tanda titik.

13. Menggunakan Garis Miring Secara Berlebihan

Sebagian penulis memakai garis miring untuk menyebut dua kelompok sekaligus.

Contoh kurang tepat:

  • mahasiswa/i.
  • karyawan/wati.

Contoh yang lebih baik:

  • mahasiswa dan mahasiswi.
  • karyawan dan karyawati.

Penggunaan bentuk lengkap lebih jelas dan mudah dipahami pembaca.

14. Salah Menulis Angka dan Nominal Uang

Penulisan angka sering dipengaruhi oleh format internasional.

Contoh salah:

  • Rp 1,500,000.
  • 3.14.

Contoh benar:

  • Rp1.500.000.
  • 3,14.

Dalam bahasa Indonesia, titik digunakan sebagai pemisah ribuan dan koma sebagai pemisah desimal.

15. Mencampur Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing Tanpa Alasan

Fenomena ini banyak ditemukan pada artikel blog dan media sosial.

Contoh kurang tepat:

  • Artikel ini sangat helpful untuk meningkatkan writing skill.

Contoh lebih baik:

  • Artikel ini sangat membantu untuk meningkatkan keterampilan menulis.

Penggunaan istilah asing sebaiknya hanya dilakukan jika memang diperlukan dan belum memiliki padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia.

Pentingnya Memahami EYD bagi Penulis

Menguasai EYD atau EBI bukan berarti membuat tulisan menjadi kaku. Sebaliknya, pemahaman terhadap aturan bahasa membantu penulis menyampaikan gagasan secara lebih jelas, rapi, dan profesional.

Bagi penulis pemula, kesalahan seperti penggunaan kata depan "di" dan "ke", penulisan kata baku, hingga penggunaan tanda baca merupakan hal yang sangat umum. Namun, semakin sering berlatih dan melakukan penyuntingan, semakin kecil pula kemungkinan kesalahan tersebut muncul.

Karena itu, sebelum memublikasikan tulisan, luangkan waktu untuk membaca ulang naskah dan memeriksa kesesuaiannya dengan kaidah bahasa Indonesia. Kebiasaan sederhana ini dapat meningkatkan kualitas tulisan secara signifikan dan membuat karya lebih nyaman dibaca oleh siapa saja.

© Kirim Tulisan. All rights reserved.