Dalam ekosistem pariwisata, istilah wisatawan bukan sekadar merujuk pada seseorang yang bepergian untuk bersenang-senang. Secara hukum, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 menjelaskan bahwa wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan wisata. Namun, di balik definisi yang tampak sederhana itu, terdapat klasifikasi dan dinamika yang jauh lebih kompleks. Jenis-jenis wisatawan bukan hanya mencerminkan arah dan tujuan perjalanan seseorang, tetapi juga menggambarkan latar belakang sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik dari individu yang melakukan perjalanan tersebut.
Membedah jenis-jenis wisatawan berarti memahami bagaimana pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain bisa menciptakan dampak besar bagi sektor ekonomi dan kebudayaan. Karyono (1997) memberikan penggolongan yang sangat sistematis mengenai jenis-jenis wisatawan berdasarkan sifat perjalanannya. Klasifikasi ini meliputi enam kelompok utama: wisatawan mancanegara, wisatawan asing domestik, wisatawan nusantara, wisatawan asing pribumi, wisatawan transit, dan wisatawan bisnis. Masing-masing memiliki karakteristik dan motivasi tersendiri dalam melakukan perjalanan wisata.
1. Foreign Tourist (Wisatawan Mancanegara)
Jenis pertama adalah foreign tourist atau yang lebih dikenal dengan istilah wisatawan mancanegara (disingkat wisman). Mereka adalah orang asing yang melakukan perjalanan wisata ke negara lain yang bukan merupakan tempat tinggalnya. Misalnya, seorang turis asal Jepang yang berlibur ke Bali atau turis dari Jerman yang menjelajahi Candi Borobudur di Yogyakarta.
Wisatawan mancanegara memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Setiap kedatangan mereka membawa devisa yang signifikan bagi negara tujuan. Tidak hanya itu, kunjungan mereka juga membuka peluang besar dalam sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga seni dan budaya lokal. Dalam konteks ini, pariwisata menjadi jembatan diplomasi budaya, memperkenalkan keunikan bangsa kepada dunia.
Motivasi utama wisatawan mancanegara biasanya beragam — mulai dari mencari pengalaman baru, menghindari musim dingin di negaranya, hingga memenuhi rasa ingin tahu terhadap keindahan alam dan budaya daerah lain. Ada pula wisatawan yang menjadikan perjalanan sebagai bentuk aktualisasi diri, simbol prestise sosial, atau bahkan sebagai terapi untuk menenangkan jiwa setelah melalui tekanan pekerjaan di negara asal.
2. Domestic Foreign Tourist (Wisatawan Asing Domestik)
Jenis wisatawan berikutnya adalah domestic foreign tourist atau wisatawan asing domestik. Mereka adalah orang asing yang bertempat tinggal di suatu negara karena urusan pekerjaan atau tugas tertentu, kemudian melakukan perjalanan wisata di wilayah negara tersebut tanpa meninggalkan batas negaranya. Contohnya, seorang staf kedutaan Inggris yang bertugas di Jakarta dan menghabiskan masa cutinya dengan berwisata ke Raja Ampat.
Wisatawan asing domestik memainkan peran unik dalam dunia pariwisata. Walaupun mereka bukan warga negara Indonesia, mereka tetap memberikan kontribusi terhadap ekonomi nasional melalui aktivitas wisata dalam negeri. Jenis wisatawan ini biasanya memiliki tingkat literasi tinggi terhadap destinasi wisata dan cenderung mencari pengalaman yang lebih autentik dibanding sekadar wisata populer. Mereka bisa menjadi duta informal yang memperkenalkan keindahan dan keramahan Indonesia kepada rekan dan keluarganya di luar negeri.
3. Domestic Tourist (Wisatawan Nusantara)
Berbeda dengan dua kategori sebelumnya, domestic tourist atau wisatawan nusantara (wisnu) adalah warga negara yang melakukan perjalanan wisata di dalam batas wilayah negaranya sendiri tanpa melewati perbatasan negara. Misalnya, seorang warga Bandung yang berlibur ke Danau Toba, atau keluarga dari Makassar yang mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta.
Wisatawan nusantara merupakan tulang punggung industri pariwisata domestik. Dalam banyak kasus, jumlah wisatawan lokal justru lebih besar dibanding wisatawan mancanegara. Hal ini sangat terlihat ketika pandemi COVID-19 melanda, di mana pembatasan internasional membuat wisata domestik menjadi penyelamat utama sektor pariwisata nasional.
Motivasi mereka beragam — mulai dari kebutuhan relaksasi, berziarah, menghadiri acara keluarga, hingga sekadar menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta. Dari perspektif ekonomi, wisatawan nusantara mendorong pemerataan pembangunan karena mereka menjangkau daerah-daerah yang belum tentu menjadi destinasi utama bagi wisatawan asing. Secara budaya, mereka juga memperkuat rasa cinta tanah air dengan mengenal lebih dalam kekayaan negeri sendiri.
4. Indigenous Foreign Tourist (Wisatawan Asing Pribumi)
Jenis wisatawan keempat adalah indigenous foreign tourist atau wisatawan asing pribumi. Mereka adalah warga negara yang tinggal di luar negeri karena tugas atau pekerjaan, kemudian kembali ke negaranya untuk melakukan perjalanan wisata di dalam negeri. Misalnya, warga negara Jepang yang bekerja sebagai konsultan di Indonesia dan saat liburan kembali ke Jepang untuk menjelajahi destinasi wisata di negaranya sendiri.
Wisatawan jenis ini sering kali memiliki pandangan unik terhadap negerinya sendiri. Mereka telah melihat dunia luar, sehingga memiliki perbandingan yang tajam antara budaya, fasilitas, dan pelayanan wisata di luar negeri dengan di tanah air. Dalam konteks pembangunan pariwisata, kehadiran mereka penting karena dapat menjadi sumber kritik konstruktif untuk peningkatan mutu layanan wisata nasional.
Selain itu, mereka juga kerap membawa serta rekan kerja atau keluarga dari luar negeri, sehingga secara tidak langsung ikut mempromosikan pariwisata domestik ke khalayak global. Dengan kata lain, wisatawan asing pribumi adalah penghubung emosional sekaligus ekonomi antara diaspora dan tanah air.
5. Transit Tourist (Wisatawan Transit)
Jenis wisatawan berikutnya adalah transit tourist atau wisatawan transit. Mereka adalah pelancong yang sedang dalam perjalanan ke suatu negara tertentu, namun harus singgah sementara di negara lain karena alasan teknis — seperti pergantian pesawat, jadwal penerbangan yang tertunda, atau keperluan administrasi imigrasi.
Walau singgah dalam waktu singkat, keberadaan wisatawan transit tetap memberikan dampak ekonomi. Banyak bandara besar di dunia, seperti Changi (Singapura) atau Doha (Qatar), memanfaatkan momen transit untuk memperkenalkan destinasi wisata lokal. Pemerintah dan industri pariwisata memandang kategori ini sebagai peluang strategis.
Dengan strategi pemasaran yang tepat, wisatawan transit bisa diubah menjadi wisatawan aktif. Misalnya, program stopover tourism yang menawarkan paket singgah 1–2 hari untuk menikmati kota sebelum melanjutkan penerbangan berikutnya. Indonesia pun memiliki potensi besar di sektor ini, terutama di wilayah seperti Bali dan Jakarta, yang menjadi pintu gerbang penerbangan internasional.
6. Business Tourist (Wisatawan Bisnis)
Kategori terakhir adalah business tourist atau wisatawan bisnis. Mereka melakukan perjalanan dengan tujuan utama untuk urusan pekerjaan, konferensi, atau pertemuan bisnis. Namun setelah urusan bisnis selesai, mereka melanjutkan perjalanan untuk berwisata. Dalam istilah modern, kategori ini sering disebut MICE tourism (Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition).
Wisatawan bisnis biasanya memiliki daya beli tinggi dan menginap di hotel berbintang. Mereka juga cenderung mencari pengalaman wisata yang efisien dan eksklusif. Banyak kota besar di dunia yang menjadikan segmen ini sebagai tulang punggung ekonomi pariwisata mereka, karena perputaran uang dari sektor bisnis sangat signifikan.
Di Indonesia, Jakarta, Surabaya, dan Bali adalah tiga destinasi utama wisata bisnis. Namun seiring dengan meningkatnya konektivitas dan fasilitas di kota lain, potensi serupa juga muncul di Medan, Makassar, dan Yogyakarta. Ke depan, sinergi antara dunia bisnis dan industri pariwisata dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.
Mengapa Seseorang Melakukan Perjalanan Wisata?
Selain memahami jenis-jenis wisatawan, penting pula untuk mengetahui motivasi yang melatarbelakangi seseorang dalam melakukan perjalanan. Motivasi inilah yang menjadi penggerak utama aktivitas wisata. Karyono (1997) menyebutkan beberapa motivasi utama, di antaranya:
- Motivasi fisik, seperti kebutuhan untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, atau partisipasi dalam kegiatan olahraga dan rekreasi.
- Motivasi budaya, yaitu keinginan untuk mempelajari adat istiadat, tradisi, kesenian, serta warisan budaya suatu daerah.
- Motivasi sosial, meliputi kunjungan kepada teman, keluarga, atau relasi bisnis; bahkan dalam beberapa kasus, untuk menunjukkan status sosial atau prestise tertentu.
- Motivasi psikologis, yakni keinginan untuk keluar dari rutinitas, menemukan ketenangan batin, dan mendapatkan kepuasan emosional.
- Motivasi aktualisasi diri, yang berkaitan dengan kebutuhan untuk dikenal, dihargai, atau mencapai kepuasan pribadi.
- Motivasi keamanan, yaitu keinginan untuk merasa aman dan nyaman di tempat tujuan wisata.
Motivasi-motivasi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan wisata tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan sosial. Wisatawan pada dasarnya adalah individu yang berusaha mencari makna, pengalaman, dan keseimbangan dalam hidup melalui perjalanan.
Makna Pembangunan Kepariwisataan Menurut UU No. 10 Tahun 2009
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 juga menegaskan bahwa pembangunan kepariwisataan harus memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya serta alam. Tujuannya bukan semata untuk meningkatkan devisa, tetapi juga untuk:
- meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat,
- menghapus kemiskinan dan mengatasi pengangguran,
- melestarikan alam, lingkungan, serta sumber daya,
- memajukan kebudayaan dan mengangkat citra bangsa,
- memupuk rasa cinta tanah air serta memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa,
- mempererat persahabatan antarbangsa.
Dengan demikian, wisata tidak hanya dipandang sebagai aktivitas rekreatif, melainkan juga sebagai sarana pembangunan sosial dan nasional. Ketika jenis-jenis wisatawan dipahami dengan baik, kebijakan pariwisata pun dapat diarahkan secara lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan dan karakter masing-masing segmen.
Relevansi Jenis-Jenis Wisatawan di Era Modern
Di era globalisasi dan digitalisasi, penggolongan wisatawan seperti yang disusun Karyono masih relevan, namun kini berkembang dengan tambahan varian baru. Munculnya wisatawan digital, backpacker, eco-tourist, dan voluntourist (wisatawan relawan) menunjukkan bahwa motivasi manusia untuk berwisata semakin beragam.
Namun, keenam jenis wisatawan klasik tetap menjadi dasar penting dalam memahami struktur mobilitas wisata global. Di Indonesia, kombinasi antara wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara menjadi indikator utama kesuksesan sektor pariwisata. Pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat perlu memahami bahwa setiap kategori wisatawan memiliki kebutuhan berbeda — dari layanan, infrastruktur, hingga pengalaman wisata yang diharapkan.
Misalnya, wisatawan mancanegara memerlukan fasilitas dengan standar internasional dan akses informasi multibahasa. Sementara wisatawan nusantara lebih menghargai nilai-nilai lokal dan destinasi yang mudah dijangkau. Di sisi lain, wisatawan bisnis membutuhkan efisiensi waktu dan konektivitas teknologi, sementara wisatawan transit memerlukan kemudahan mobilitas di area bandara dan kota terdekat.
Jenis-jenis wisatawan mencerminkan keanekaragaman manusia dalam menjalani kehidupan modern yang dinamis. Klasifikasi seperti yang dijelaskan oleh Karyono (1997) — mulai dari wisatawan mancanegara hingga wisatawan bisnis — membantu memahami perilaku, kebutuhan, serta kontribusi mereka terhadap pembangunan pariwisata nasional.
Di sisi lain, motivasi yang melatarbelakangi perjalanan — baik fisik, budaya, sosial, maupun psikologis — memperlihatkan bahwa wisata adalah bagian penting dari ekspresi kemanusiaan. Ia bukan hanya bentuk hiburan, tetapi juga media untuk mempererat hubungan sosial, memperluas wawasan, dan menumbuhkan cinta terhadap keindahan dunia.
Indonesia, dengan segala kekayaan alam dan budayanya, memiliki peluang besar untuk menampung berbagai jenis wisatawan tersebut. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan ekosistem wisata yang inklusif, aman, berkelanjutan, dan menghargai keanekaragaman kebutuhan wisatawan. Dengan pengelolaan yang baik, pariwisata tidak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga instrumen diplomasi budaya dan kebanggaan nasional.
Karena setiap wisatawan — dari mana pun asalnya dan dengan tujuan apa pun ia bepergian — adalah bagian dari narasi besar manusia dalam mencari pengalaman, kebahagiaan, dan pemaknaan hidup melalui perjalanan.