Pengertian Sastra menurut Para Ahli

Ingin tahu apa itu sastra secara mendalam? Yuk simak pembahasan lengkap pengertian sastra menurut para ahli dan relevansinya dalam kehidupan.

Sastra merupakan salah satu cabang kebudayaan yang memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban manusia. Keberadaan sastra tidak hanya berkaitan dengan keindahan bahasa, tetapi juga mencerminkan cara manusia memahami, menafsirkan, dan merespons kehidupan. Dalam berbagai peradaban, sastra hadir sebagai medium ekspresi, refleksi sosial, hingga sarana pewarisan nilai. Oleh karena itu, pembahasan mengenai pengertian sastra menjadi hal mendasar dalam kajian kesusastraan, baik di ranah akademik maupun di ruang kebudayaan yang lebih luas.

Pengertian Sastra menurut Para Ahli

Sejumlah ahli sastra telah memberikan definisi yang beragam mengenai sastra. Perbedaan tersebut bukanlah pertentangan, melainkan menunjukkan keluasan makna sastra itu sendiri. Setiap pendapat lahir dari latar belakang pemikiran, konteks zaman, serta pendekatan keilmuan yang berbeda. Dengan menelaah pengertian sastra menurut para ahli, pemahaman tentang hakikat sastra dapat menjadi lebih utuh dan mendalam.

Asal-usul Istilah Sastra

Secara etimologis, istilah sastra berasal dari bahasa Sanskerta. Teeuw (2013) menjelaskan bahwa kata sastra tersusun atas dua unsur, yaitu sas- dan -tra. Unsur sas- mengandung arti memberi petunjuk, mengajar, atau mengarahkan, sedangkan -tra berarti sarana atau alat. Berdasarkan pengertian tersebut, sastra dapat dimaknai sebagai sarana yang digunakan untuk memberikan petunjuk atau tuntunan.

Pemaknaan ini menunjukkan bahwa sejak awal, sastra tidak berdiri sebagai sesuatu yang kosong atau sekadar hiburan. Sastra hadir dengan fungsi tertentu, terutama sebagai medium penyampaian nilai, pengetahuan, dan pengalaman hidup. Melalui bahasa yang dirangkai secara khas, sastra berusaha mengarahkan pembaca atau pendengarnya pada pemahaman tertentu mengenai kehidupan.

Pengertian sastra sebagai sarana juga menegaskan bahwa karya sastra selalu memiliki keterkaitan dengan realitas. Meski bersifat imajinatif, sastra tetap berpijak pada pengalaman manusia, baik pengalaman individual maupun kolektif. Dengan demikian, sastra tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budaya tempat karya tersebut lahir.

Sastra sebagai Kegiatan Kreatif dan Karya Seni

Pandangan Teeuw mengenai sastra sebagai sarana mendapatkan pelengkap dan pengayaan dari pemikiran Wellek dan Warren. Menurut Wellek dan Warren (2014: 3), sastra adalah sebuah kegiatan kreatif yang menghasilkan karya seni. Definisi ini menekankan bahwa sastra merupakan hasil dari proses kreatif manusia yang melibatkan imajinasi, kepekaan rasa, serta pengolahan bahasa secara estetis.

Sebagai karya seni, sastra memiliki nilai estetika. Keindahan dalam sastra tidak hanya terletak pada pilihan kata atau gaya bahasa, tetapi juga pada cara pengarang membangun makna, menghadirkan konflik, serta menciptakan pengalaman emosional bagi pembaca. Nilai estetika inilah yang membedakan karya sastra dari bentuk tulisan lain yang bersifat informatif atau teknis.

Wellek dan Warren (1986) juga menegaskan bahwa sastra sebagai seni tidak dapat dilepaskan dari unsur subjektivitas penciptanya. Pengalaman pribadi, pandangan hidup, dan latar belakang sosial pengarang turut memengaruhi proses penciptaan karya sastra. Namun, subjektivitas tersebut diolah sedemikian rupa sehingga mampu berbicara secara universal dan menyentuh pengalaman manusia secara umum.

Sastra Tidak Sekadar Estetika Bahasa

Pandangan yang memosisikan sastra semata-mata sebagai keindahan bahasa dianggap belum mencukupi untuk menjelaskan kompleksitas sastra. Hudhana dan Mulasih (2019, hlm. 9) menyatakan bahwa sastra tidak sekadar berorientasi pada estetika bahasa, tetapi memiliki dimensi yang lebih luas. Sastra bersinggungan dengan kehidupan bermasyarakat dan mencerminkan dinamika sosial yang terjadi di sekitarnya.

Melalui karya sastra, berbagai persoalan sosial dapat diangkat dan dipersoalkan. Ketimpangan sosial, konflik kekuasaan, pergulatan identitas, hingga nilai-nilai moral sering kali menjadi tema utama dalam karya sastra. Dengan cara yang halus dan simbolik, sastra mampu menyampaikan kritik sosial tanpa harus bersifat menggurui.

Pendekatan ini menempatkan sastra sebagai medium refleksi sosial. Sastra tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca untuk berpikir, merenung, dan mempertanyakan realitas yang dihadapi. Oleh karena itu, karya sastra sering kali menjadi cermin bagi masyarakat, sekaligus ruang dialog antara pengarang dan pembaca.

Sastra sebagai Ekspresi Budaya yang Dinamis

Hidayati (2010: 1) memandang sastra sebagai bentuk ekspresi budaya yang tidak terlepas dari penciptanya. Sastra dapat hadir dalam bentuk lisan maupun tulisan, tergantung pada tradisi dan perkembangan masyarakat pendukungnya. Dalam masyarakat tradisional, sastra lisan seperti cerita rakyat, mantra, dan nyanyian memiliki peran penting dalam kehidupan sosial. Sementara itu, sastra tulisan berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan pendidikan.

Hakikat sastra yang dinamis menunjukkan bahwa sastra selalu berubah dari zaman ke zaman. Perubahan tersebut dapat terlihat dari tema, bentuk, gaya bahasa, hingga media penyampaiannya. Sastra klasik memiliki ciri yang berbeda dengan sastra modern, begitu pula sastra modern berbeda dengan sastra kontemporer.

Dinamika ini menunjukkan bahwa sastra selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Meski demikian, perubahan tersebut tidak menghilangkan esensi sastra sebagai ekspresi kemanusiaan. Justru, melalui perubahan itulah sastra tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman.

Kesamaan dan Perbedaan Pandangan Para Ahli

Jika ditelaah lebih jauh, pendapat para ahli mengenai pengertian sastra memiliki benang merah yang sama. Teeuw menekankan sastra sebagai sarana pemberi petunjuk, Wellek dan Warren memandang sastra sebagai karya seni hasil kegiatan kreatif, sementara Hudhana, Mulasih, dan Hidayati menyoroti dimensi sosial dan kultural sastra.

Perbedaan penekanan tersebut menunjukkan bahwa sastra merupakan konsep multidimensional. Sastra tidak dapat dipahami hanya dari satu sudut pandang, melainkan perlu dilihat dari berbagai aspek, seperti estetika, fungsi sosial, dan konteks budaya. Dengan pendekatan yang komprehensif, pemahaman tentang sastra menjadi lebih kaya dan mendalam.

Perbedaan pandangan ini juga mencerminkan perkembangan kajian sastra itu sendiri. Seiring dengan berkembangnya teori dan pendekatan sastra, definisi sastra pun mengalami perluasan. Hal ini menunjukkan bahwa sastra bukanlah konsep yang statis, melainkan terus berkembang sejalan dengan pemikiran manusia.

Sastra dan Kehidupan Manusia

Salah satu kesimpulan penting dari berbagai pendapat ahli adalah keterkaitan erat antara sastra dan kehidupan manusia. Sastra lahir dari pengalaman hidup, baik yang bersifat personal maupun kolektif. Pengalaman tersebut kemudian diolah melalui bahasa dan imajinasi, sehingga menjadi karya yang memiliki nilai estetika dan makna.

Dalam kehidupan sehari-hari, sastra dapat berfungsi sebagai sarana hiburan, pendidikan, dan pembentukan karakter. Melalui cerita, puisi, atau drama, nilai-nilai moral dan kemanusiaan dapat disampaikan dengan cara yang lebih menyentuh. Sastra juga dapat menjadi ruang pelarian dari realitas yang keras, sekaligus sarana untuk memahami realitas tersebut secara lebih mendalam.

Keterkaitan sastra dengan kehidupan inilah yang membuat sastra tetap bertahan dan dibaca lintas generasi. Meski konteks zaman berubah, tema-tema dasar seperti cinta, penderitaan, perjuangan, dan harapan tetap relevan bagi manusia.

Sastra sebagai Media Kritik dan Kesadaran Sosial

Selain sebagai ekspresi estetis, sastra juga memiliki fungsi kritis. Banyak karya sastra yang lahir sebagai respons terhadap ketidakadilan, penindasan, atau ketimpangan sosial. Melalui simbol dan metafora, pengarang dapat menyampaikan kritik tanpa harus menyatakannya secara langsung.

Fungsi kritis ini sejalan dengan pandangan bahwa sastra bersinggungan dengan kehidupan bermasyarakat. Sastra dapat membangun kesadaran sosial dan mendorong pembaca untuk lebih peka terhadap persoalan di sekitarnya. Dengan demikian, sastra memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan sosial, meskipun pengaruhnya tidak selalu bersifat langsung.

Dalam konteks ini, sastra tidak hanya dinikmati sebagai karya seni, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari diskursus sosial. Pembacaan terhadap karya sastra dapat membuka ruang dialog dan memperkaya perspektif dalam melihat realitas.

Relevansi Sastra di Era Modern

Di tengah perkembangan teknologi dan media digital, peran sastra sering kali dipertanyakan. Namun, perubahan media tidak serta-merta menghilangkan esensi sastra. Sastra justru menemukan bentuk-bentuk baru, seperti cerpen daring, puisi media sosial, dan novel digital.

Relevansi sastra di era modern terletak pada kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasarnya. Sastra tetap menjadi ruang ekspresi, refleksi, dan pencarian makna di tengah kompleksitas kehidupan modern. Pendapat para ahli mengenai sifat dinamis sastra semakin terbukti dalam konteks ini.

Dengan memahami pengertian sastra menurut para ahli, pembaca dapat melihat bahwa sastra bukan sekadar teks yang indah, melainkan representasi dari pergulatan manusia dalam memahami dirinya dan dunia.

Kesimpulan

Berdasarkan pendapat Teeuw, Wellek dan Warren, Hudhana dan Mulasih, serta Hidayati, dapat disimpulkan bahwa sastra memiliki makna yang luas dan mendalam. Sastra merupakan sarana yang memberikan petunjuk dan arahan, hasil dari kegiatan kreatif manusia yang bernilai seni, serta medium ekspresi budaya yang bersifat dinamis.

Sastra tidak hanya berorientasi pada estetika bahasa, tetapi juga bersinggungan dengan kehidupan sosial dan budaya. Keberadaannya selalu berubah seiring dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan esensinya sebagai ekspresi kemanusiaan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pengertian sastra menurut para ahli menjadi landasan penting dalam mengkaji dan mengapresiasi karya sastra secara lebih utuh.

Melalui sastra, kehidupan dapat dipahami tidak hanya secara rasional, tetapi juga secara emosional dan reflektif. Inilah yang menjadikan sastra tetap relevan dan memiliki tempat penting dalam kebudayaan manusia hingga saat ini.

© Kirim Tulisan. All rights reserved.