Takut Dibilang Jelek? Ini Ketakutan Umum Penulis Pemula

Takut dinilai, takut salah, takut jelek. Yuk simak sisi psikologis di baliknya dan temukan cara agar ketakutan tak lagi menghentikanmu untuk menulis.

Menulis sering kali dianggap sebagai aktivitas yang sunyi, personal, dan lahir dari kejujuran pikiran. Namun di balik proses kreatif itu, ada satu ketakutan yang hampir selalu menghantui penulis pemula: takut tulisannya dibilang jelek. Ketakutan ini bukan sekadar rasa tidak percaya diri biasa, melainkan fenomena psikologis dan sosial yang kompleks, dipengaruhi oleh budaya literasi, media sosial, standar industri, hingga pengalaman pendidikan.

Ironisnya, ketakutan tersebut justru sering menjadi penghambat terbesar bagi seseorang untuk benar-benar memulai dan berkembang sebagai penulis. Banyak naskah berhenti di folder draft, banyak ide menguap sebelum sempat dituangkan, dan banyak potensi terpendam karena satu kalimat sederhana: “Takut kalau tulisan ini jelek.”

Ketakutan yang Hampir Selalu Hadir di Awal

Hampir semua penulis, terutama yang baru memulai, pernah mengalami kegelisahan yang sama. Setelah menulis satu paragraf, muncul dorongan untuk menghapus. Setelah menyelesaikan satu halaman, muncul rasa ragu. Setelah membaca ulang, muncul pertanyaan: “Layakkah ini dibaca orang lain?”

Ketakutan Umum Penulis Pemula

Ketakutan ini wajar, karena menulis bukan sekadar menyusun kata, tetapi membuka cara berpikir kepada publik. Ketika tulisan dinilai, yang terasa dinilai bukan hanya teks, melainkan kecerdasan, selera, dan bahkan kepribadian penulisnya. Bagi penulis pemula, batas antara kritik terhadap tulisan dan kritik terhadap diri sendiri sering kali kabur.

Dalam konteks inilah, rasa takut dibilang jelek tumbuh subur. Bukan hanya takut tidak disukai, tetapi takut dianggap tidak kompeten, tidak pantas menyandang label “penulis”, atau bahkan takut dipermalukan.

Standar “Bagus” yang Terlalu Tinggi

Salah satu penyebab utama ketakutan penulis pemula adalah standar kualitas yang terlalu tinggi sejak awal. Banyak penulis baru membandingkan tulisannya dengan karya penulis mapan, kolumnis media nasional, atau buku-buku best seller. Perbandingan ini hampir selalu timpang.

Tulisan pertama seorang pemula diharapkan setara dengan karya yang lahir dari puluhan tahun pengalaman. Akibatnya, setiap kalimat terasa kurang matang, setiap pilihan kata terasa salah, dan setiap struktur dianggap lemah. Padahal, kualitas tulisan adalah hasil proses panjang, bukan kondisi bawaan.

Budaya media sosial juga memperparah kondisi ini. Di ruang digital, tulisan-tulisan yang viral sering kali tampak rapi, tajam, dan penuh percaya diri. Yang jarang terlihat adalah proses di baliknya: revisi berkali-kali, naskah yang ditolak, atau tulisan-tulisan buruk yang tidak pernah dipublikasikan.

Trauma Akademik dan Pendidikan Menulis

Bagi sebagian orang, ketakutan menulis berakar dari pengalaman di bangku sekolah. Koreksi dengan tinta merah, komentar singkat seperti “kurang tepat” atau “tidak runtut”, serta penilaian angka sering kali membentuk persepsi bahwa menulis adalah aktivitas yang penuh risiko salah.

Alih-alih diperlakukan sebagai proses eksplorasi, menulis kerap diajarkan sebagai tugas yang harus benar sejak awal. Kesalahan dianggap kegagalan, bukan bagian dari pembelajaran. Pola ini terbawa hingga dewasa, membuat penulis pemula merasa harus menghasilkan tulisan “sempurna” sebelum berani menunjukkannya.

Dalam konteks opini dan esai, trauma ini menjadi lebih kuat. Menyampaikan pendapat berarti membuka ruang perdebatan. Takut dibilang jelek sering bercampur dengan takut dibilang bodoh, naif, atau tidak paham isu.

Ketakutan akan Penilaian Publik

Di era digital, tulisan jarang berhenti di satu pembaca. Sekali dipublikasikan, sebuah tulisan bisa dibaca, dibagikan, dikomentari, bahkan disalahartikan oleh banyak orang. Bagi penulis pemula, bayangan komentar negatif sering kali lebih besar daripada kemungkinan apresiasi.

Ketakutan ini tidak selalu irasional. Kritik di ruang publik memang bisa tajam dan tidak selalu konstruktif. Ada komentar yang menyerang pribadi, bukan argumen. Ada pula pembaca yang membaca sepintas lalu lalu menyimpulkan secara gegabah.

Namun, fokus berlebihan pada potensi reaksi negatif sering membuat penulis pemula lupa bahwa tulisan tidak mungkin menyenangkan semua orang. Bahkan tulisan terbaik sekalipun selalu memiliki pembaca yang tidak setuju.

Perfeksionisme sebagai Musuh Tersembunyi

Perfeksionisme sering disalahartikan sebagai sikap positif. Padahal, bagi penulis pemula, perfeksionisme justru bisa menjadi musuh terbesar. Keinginan agar tulisan langsung bagus membuat proses menulis terasa berat dan menakutkan.

Setiap kalimat ditimbang berlebihan, setiap paragraf dicurigai. Akhirnya, proses menulis berubah menjadi proses menyunting tanpa akhir. Tulisan tidak pernah selesai karena selalu dianggap belum cukup baik.

Perfeksionisme juga melahirkan ilusi bahwa tulisan yang jelek tidak boleh ada. Padahal, tulisan jelek adalah bagian penting dari perjalanan menjadi penulis yang lebih baik. Tanpa melewati fase itu, tidak ada perkembangan yang nyata.

Salah Kaprah tentang “Bakat Menulis”

Ketakutan dibilang jelek sering diperkuat oleh mitos bahwa menulis adalah bakat bawaan. Jika tulisan terasa buruk, kesimpulan yang muncul bukan “perlu latihan”, melainkan “tidak berbakat”.

Pandangan ini keliru. Menulis adalah keterampilan, dan seperti keterampilan lain, yang berkembang melalui latihan, kegagalan, dan pembiasaan. Penulis-penulis besar pun memulai dari tulisan yang jauh dari sempurna.

Ketika bakat dijadikan tolok ukur utama, penulis pemula cenderung mudah menyerah. Satu kritik negatif dianggap bukti bahwa jalan menulis bukan untuknya. Padahal, kritik justru bagian dari ekosistem literasi yang sehat.

Mengapa Ketakutan Ini Perlu Diakui

Mengakui rasa takut bukan berarti menyerah padanya. Sebaliknya, pengakuan adalah langkah awal untuk memahami dan mengelolanya. Ketakutan dibilang jelek menunjukkan bahwa penulis peduli pada kualitas dan dampak tulisannya. Itu bukan kelemahan, melainkan modal.

Masalah muncul ketika ketakutan tersebut mengambil alih kendali dan menghentikan proses. Menulis yang tidak pernah dipublikasikan tidak akan pernah berkembang. Umpan balik, baik positif maupun negatif, hanya datang ketika tulisan berani keluar dari ruang privat.

Menulis sebagai Proses, Bukan Produk Seketika

Salah satu cara meredakan ketakutan adalah mengubah cara pandang terhadap menulis. Menulis bukan produk instan, melainkan proses berlapis. Draft pertama tidak harus bagus. Bahkan, sering kali memang tidak bagus.

Dengan memisahkan tahap menulis dan tahap menilai, penulis pemula bisa lebih leluasa menuangkan ide tanpa beban. Penilaian kualitas bisa datang belakangan, melalui revisi dan masukan pembaca.

Banyak penulis berpengalaman menyadari bahwa menulis yang buruk adalah harga yang harus dibayar untuk sampai pada tulisan yang baik. Tidak ada jalan pintas yang benar-benar bebas dari fase ini.

Lingkaran Aman dan Pentingnya Komunitas

Ketakutan dibilang jelek juga bisa dikurangi dengan memilih ruang publikasi yang tepat. Tidak semua tulisan harus langsung dilempar ke ruang yang luas dan keras. Komunitas menulis, forum diskusi, atau media dengan kurasi yang jelas bisa menjadi ruang aman untuk belajar.

Di ruang seperti itu, kritik cenderung lebih terarah dan bertujuan membangun. Penulis pemula bisa belajar membedakan kritik terhadap teks dan serangan terhadap pribadi. Kemampuan ini penting untuk bertahan dalam dunia kepenulisan.

Jelek Menurut Siapa?

Pertanyaan yang jarang diajukan adalah: jelek menurut siapa? Selera pembaca sangat beragam. Tulisan yang dianggap biasa oleh satu orang bisa terasa bermakna bagi orang lain. Tidak ada standar tunggal yang mutlak.

Banyak tulisan sederhana yang justru kuat karena kejujuran dan kedekatannya dengan pengalaman pembaca. Sebaliknya, tulisan yang secara teknis rapi belum tentu menyentuh. Ketakutan dibilang jelek sering kali berangkat dari asumsi bahwa penilaian bersifat objektif, padahal tidak sepenuhnya demikian.

Menulis sebagai Tindakan Keberanian

Pada akhirnya, menulis adalah tindakan keberanian. Bukan karena semua tulisan harus sempurna, tetapi karena menulis berarti bersedia terlihat tidak sempurna. Penulis pemula yang berani menerbitkan tulisannya, meski masih belajar, sedang membangun otot mental yang penting untuk jangka panjang.

Keberanian ini tidak menghapus rasa takut, tetapi berjalan bersamanya. Ketakutan tidak harus hilang untuk mulai menulis; hanya perlu ditempatkan di posisi yang tidak mengendalikan.

Penutup

Takut dibilang jelek adalah ketakutan yang manusiawi dan hampir selalu hadir di awal perjalanan menulis. Ketakutan ini lahir dari standar yang terlalu tinggi, pengalaman masa lalu, dan bayangan penilaian publik. Namun jika dibiarkan, ini bisa menjadi tembok yang menghalangi proses belajar dan berkembang.

Menulis bukan tentang langsung bagus, melainkan tentang terus bergerak. Tulisan yang hari ini terasa canggung bisa menjadi pijakan bagi tulisan yang lebih matang di kemudian hari. Dalam dunia kepenulisan, keberanian untuk memulai sering kali jauh lebih penting daripada kemampuan untuk sempurna.

Dengan memahami bahwa rasa takut adalah bagian dari proses, penulis pemula dapat mulai berdamai dengannya. Sebab, tulisan yang tidak pernah ditulis karena takut dibilang jelek adalah satu-satunya tulisan yang benar-benar tidak punya kesempatan untuk menjadi baik.

© Kirim Tulisan. All rights reserved.